Menjemput Kenangan

 



Sekelompok manusia berlarian meninggalkan peron-peron stasiun yang hangat, diantara nafas yang sengal, mereka dengan cekat berbondong-bondong menjemput bahagia.

“Menjemput Kenangan”

Suatu hari di kota yang asing menuju kota kenangan

/1/

Malam semakin memberat, rasanya aku tak lagi kuasa menatap sisa-sisa malam terakhir disini, pada kota yang sama sekali tidak mengenal siapa aku. Ya disini aku asing. Cahaya lampu semakin menua, hanya jam dinding tua yang masih segar, ramai dan riuh dengan suara-suara dentingnya, sebelum kusetubuhi malam, sengaja ku lempar umpan-umpan doa pada sisa genangan hujan malam, berharap malamku penuh dengan mimpi yang indah dan menyekanakan pagi yang bergairah.

/2/

Pagi menjemputku untuk tanggal dari atas tempat tidur yang beku, dingin. Benar saja, setelah ku umpani doa, kudapati berbagai mimpi yang tentu tak dapat ku lupa, bahagia, bahagia sekali. Tapi sekali lagi, itu hanyalah mimpi, jadi percuma saja. Aku tak mau berharap lebih padanya, Aku takut hanya akan sakit.

/3/

Ini adalah deru langkah terakhirku, berjalan tanpa mengingat dosa diatas trotoar-trotoar kota yang mengisyaratkanku untuk tetap tinggal. Tak tuk tak tuk, pantofelku terus saja bersuara senang, seakan-akan ia tahu, betapa bahagia hati tuannya pagi ini.

/4/

Tut tutttt... Terdengar suara kereta api melengking, begitu keras. Suara itu seperti tengah melambai-lambai padaku, seakan mengajakku untuk segera gegas, dan pergi bersamanya. Tut tutttt... sekali lagi lonceng kereta api kembali melengking setelah melewati kelok pertama stasiun.

/5/

Kereta ini membawa ragaku, namun tidak dengan hatiku. Entah mengapa aku masih tidak rela untuk meninggalkan kota yang seindah ini. Walaupun sebagian dari perasaanku berkata lain, bahwasanya aku sangat mendambakan kota kenangan yang tengah kutuju saat ini. Pada laju kereta yang pesat, sebesit kenangan selalu saja membayangi kepala. Ah, betapa bahagianya menjadi aku, yang memiliki sejuta kenang, yang setia menanti kehadiran diriku ini.

/6/

Aku telah sampai pada tujuan. Sesekali kuhirup udara segar kota ini, sejuk sekali. Mataku berkeliaran, menatap sudut demi sudut kubus kota, terlihat sedikit asing sekarang kota ini, mungkin karena interiornya yang baru. Ah sial berapa lama aku pergi? Aku rehat sebentar pada Patio yang segar. Oksigen, cahaya, dan sudut disini merupakan tempat yang tepat untuk menunggu. Mataku berlari, mengejar seseorang wanita yang tengah melambaikan tangannya dibalik pintu keluar stasiun yang haru. Dengan rambut yang tergerai menjilat separuh punggungnya, ia bersorak bahagia, menyeruku untuk segera berlari menghampirinya, tak terasa suasana menjelma begitu haru, masing-masing dari sudut mata kita saling menitikan air mata, tentu saja itu air mata bahagia. Jika kau bertanya siapakah wanita itu? Ya dia adalah sejuta kenanganku, di kota yang penuh kenang ini.

 

Jakarta-Purwokerto 2019

Komentar

Postingan Populer