Cita-Cinta (Cerpen Version)
Tidak ada satu orang pun yang menginginkan adanya sebuah perpisahan. Begitu pula dengan aku. Sangat menyedihkan ketika sebuah cita-cita harus mengorbankan sebuah cinta. Sangat menyakitkan ketika jarak harus mengasingkan masing-masing dari kita. Sangat memilukan ketika kita harus tersakit-sakit merelakan kehilangan. Cita dan cinta, dua masa depan yang penuh pilihan, antara di pertahankan atau di relakan, keduanya sama-sama menyakitkan.
Namaku Nenggar, siswa kelas sebelas di salah satu SMA swasta favorit di kota Bumiayu. Jarak antara rumah dan sekolahku terbilang cukup jauh, maka dari itu aku memutuskan untuk tinggal di kost-an yang dekat dengan sekolahku. Jarak antara kost-an dan sekolahku tidak terlalu jauh, hanya dengan berjalan kaki sekitar lima belas menit, aku sudah bisa sampai.
Sepulang sekolah, siang itu hujan turun deras, aku tengah berada ditrotoar yang mulai sepi ditinggal para pejalan kaki. Aku mencoba mengedarkan pandang, berniat mencari-cari tempat untuk berlindung dari guyur hujan, pada akhirnya aku memutuskan untuk berteduh disalah satu cafe sebrang jalan, Due Cafe. Dari dalam cafe, terlihat hujan turun semakin deras, juga disertai dengan angin kencang. Jari-jari tanganku mengkerut, begitu pula dengan bibirku yang ikut memucat dan biru. Udara terasa begitu sangat dingin.
Aroma cappucino
pesananku menyengat kedalam hidungku, harum sekali. Tanpa lama-lama aku
segera menyeruputnya perlahan. Kurasakan tubuhku kembali terasa hangat. Terlihat
Café tidak begitu ramai, hanya ada beberapa sekelompok anak muda yang sedang
asik bermain musikalisasi puisi. Kebetulan aku juga sangat menyukai puisi, lalu
akhirnya aku memberanikan diri untuk mendekat dan duduk diantara mereka.
Kedatanganku disambut baik oleh mereka, aku pun memperkenalkan diri pada mereka, begitupula sebaliknya. Semuanya memang sangat wellcome denganku, tapi ku katakan terdapat salah satu anak yang lebih wellcome diantara semua anak-anak yang ada di cafe itu. Namanya, Dini Zafira. Wajahnya cantik, matanya juga sayu, Dini terlihat begitu meneduhkan hati bila dipandang.
Aku dan Dini asik mengobrol tentang berbagai macam buku-buku puisi, kita saling bertukar dan bercerita mengenai bahan bacaan apa yang sudah masing-masing kita baca selama ini. Aku sangat kagum dengan pengetahuan-pengetahuan Dini mengenai dunia sastra. Pengetahuanku tentunya belum apa-apa dibandingkan dengan Dini. Tak jarang aku merasa bingung ketika dini menggunakan kata-kata istilah yang masih asing di telingaku.
Terlihat,
diluar, hujan sudah mulai reda, aku pun segera bersiap untuk gegas pulang
menuju kost-an. Sebelum aku pergi, aku memberikan nomor ponselku pada Dini,
berniat agar setelah ini, aku masih bisa saling berkomunikasi dengannya. Dini
pun menerimanya dengan senang hati. Setelah
itu aku pun segera meninggalkan cafe. Sejujurnya aku masih betah berlama-lama
disana, berbincang-bincang dengan Dini dan juga temannya mengenai dunia sastra.
Tapi sayang, di kost-an PR ku sudah menumpuk.
Di
sepanjang perjalanan pulang, aku masih saja memikirkan Dini. Aku masih sangat
takjub dengan dia. Baru kali ini aku menemukan sosok perempuan yang sangat
mengagumkan. Selain cantik, dia juga sangat cerdas. Sungguh tidak ada yang
lebih menyenangkan dari pada pertemuanku dengan Dini kali ini. Terimakasih
Tuhan, karena kau telah menurunkan hujan dan memuarakan ku pada satu ruang yang
sama, bersama dia.
Tepat
pada pukul 18.30 selepas magrib, ada
notif whatsapp di ponsel ku, ku lihat itu nomor baru yang baru saja masuk.
Setelah ku baca, ternyata pesan whatsapp itu dari Dini. “Malem Nenggar, ini
nomor aku, Dini. Simpan ya...” aku pun langsung membalasnya, “Oke Din,
siap!” obrolan pun berlanjut cukup lama, sampai akhirnya tepat pukul 20.00,
kita menghentikan obrolan yang sedang berlangsung. Mengingat aku yang belum
melaksanakan sholat isya dan juga melanjutkan PR yang masih banyak.
Aku dan
Dini berbeda sekolah, Dini bersekolah di SMA Negeri dan Aku di swasta, walapun
demikian, akan tetapi aku dan Dini sering mengerjakan PR bersama, kita saling
membantu satu sama lain ketika masing-masing dari kita mendapati kesulitan.
Lagi-lagi aku dibuat takjub dengannya. Bagaimana tidak, selain jago dibidang
sastra, Dini juga jago dibidang mata pelajaran eksak. Ah beruntung sekali aku
bisa mengenal dia.
Semakin
hari aku merasa semakin dekat dengan Dini. selain belajar bersama, kita juga
sering hangeout berdua saat weekend tiba. Sejak saat itu aku
semakin merasa nyaman dengannya, hingga pada akhirnya, aku memutuskan untuk
menyatakan cinta pada Dini, pada awalnya aku merasa takut, jikalau nanti Dini
menolak perasaanku ini, namun tekadku sudah kuat, aku lebih memilih
menyatakannya langsung dari pada memendam perasaan ku padanya.
Jumat, 24
Maret 2017. Pada tanggal itu aku memberanikan diri untuk menyatakan perasaan
cinta pada Dini. Pada awalnya Dini terlihat ragu-ragu untuk membalas cintaku
ini, namun setelah aku meyakinkan dia, dia pun akhirnya menerima pernyataan
cintaku ini. Tidak usah ditanya bagaimana perasaanku waktu itu, jelas aku
merasakan kebahagiaan yang sungguh luar biasa.
Hubunganku
dengan Dini cukup baik, selama perjalanan cinta kita berlangsung, kita jarang
mendapati konflik, paling hanya sekadar keributan kecil karena perbedaan
pendapat biasa, tidak lama setelah itu kita sudah bisa saling memaafkan
kembali. Banyak anak yang tidak mengetahui hubungan antara aku dan Dini, tetapi
anak-anak yang sudah tahu, tak jarang mereka mengagumi hubungan kita yang
sangat hamonis ini.
Sabtu,
24 Maret 2018. Sudah satu tahun berjalannya hubunganku dengan Dini. Di
sela-sela kepadatan jadwal menjelang Ujian Nasional di sekolah, kita meluangkan
sedikit waktu untuk sekadar merayakan hari jadian kita. Tidak ada yang spesial
di hari jadian kita waktu itu. Hanya sebatas dua mangkuk bakso yang menemani
perayaan kita kali itu.
Ujian
Nasional sudah dimulai, tidak ada hangeout untuk minggu itu. Aku
dan Dini benar-benar lebih memfokuskan terhadap belajar kita dari pada bermain
kali itu. Mengingat kemampuan berhitungku agak lemah, akhirnya Ujian Nasional
kali itu aku memilih Biologi sebagai mata ujian pilihan, sedangkan Dini,
sebagai siswi yang cerdas, dia lebih memilih Fisika sebagai mata ujian
pilihannya.
Ujian
Nasional telah usai, pengumuman ujian di perkirakan keluar tiga minggu setelah
ujian selesai. Sembari menunggu hasil ujian, aku dan Dini sibuk mencari kampus
untuk melanjutkan kuliah setelah lulus SMA nanti. Dini lebih memilih kampus di
daerah Jogjakarta, sedangkan aku tidak ada target khusus di kampus mana yang
harus aku kejar. Aku mengejar kampus manapun, selagi aku dan orang tua ku
mampu.
Hasil
Ujian Nasional sudah keluar, dan bersyukur sekali karena aku dan Dini lulus
Ujian. Namun sayangnya sampai saat itu, aku dan Dini belum mendapatkan kampus
tujuan. Waktu itu aku dan Dini berjuang mati-matian demi mendapatkan kampus
impian. Dimulai dari mengikuti berbagai macam try out ujian masuk kampus
dan juga mendaftar di berbagai macam sistem jalur tes penerimaan mahasiswa
baru.
Akhirnya
Dini menemukan kampus impiannya, Dini diterima disalah satu PTN di daerah
Jogjakarta melalui jalur tes SBMPTN, sedangkan aku di terima disalah satu PTKIN
di daerah Purwokerto melalui jalur tes UM-PTKIN. Disatu sisi kita sangat bahagia
dan bangga dengan pencapaian kita, namun disisi lain kita merasa sedih karena
besok kita harus terpisah oleh jarak.
Satu hal
yang mengejutkan adalah ketika Dini memutuskan untuk berpisah denganku, dengan
alasan dia ingin lebih fokus mengejar citanya dibandingkan dengan cintanya. Aku
sangat terpukul mendengar semua itu, aku tidak bisa berbuat apa-apa, aku tidak
ada hak untuk mengatur kehidupannya, hingga akhirnya kita memutuskan untuk
saling memasingkan diri pada tanggal 3 Agustus 2018.
Aku
merasa sedikit lega, karena Dini berjanji, setelah dia berhasil memperjuangkan
citanya, dia akan kembali lagi untuk memperjuangkan cintanya bersamaku.
Entahlah, apapun yang akan terjadi kelak, aku hanya bisa menunggu janji Dini
dan mengharap takdir yang terbaik dari Tuhan. Aku tidak mau berharap lebih, aku
takut jikalau pada akhirnya aku hanya akan mendapatkan sakit.
Tibalah
hari dimana aku dan Dini benar-benar di masingkan, sebelum Dini pergi ke
Jogjakarta, aku mengantarnya sampai stasiun kota Bumiayu, aku ingin untuk yang
terakhir kalinya dapat memberi yang terbaik untuk Dini. walaupun sejujurnya aku
sangat merasakan sakit atas kehilangan perempuan langka seperti dia. Namun aku
yakin, keputusan ini adalah keputusan yang terbaik untuk Dini dan juga aku.
Sebelum
kereta Dini datang, aku memberinya beberapa kalimat selamat tinggal untuknya. Sebelum
itu aku berusaha meraih tangannya, “Hay, selamat tinggal, tidak perlu kita
berlama-lama merayakan hari duka ini, kita berpisah hanya sementara, sampai
kita meraih apa yang kita cita, perjuangkanlah” kataku sambil berusaha
tersenyum tegar padanya.
Lalu Dini menjawab kalimatku tadi, “Sudahlah, yang terpenting sekarang adalah, seberapa lamapun perpisahan, seberapa jauhpun kita berjarak. Aku dan kamu sudah memiliki tujuan yang sama, tujuan kita adalah untuk Mencita, Mencinta, dan Kembali Lagi.” Tiba-tiba tanpa ku sadari, masing-masing dari mata kita saling melinangkan air mata.
Pukul 10.15 tepat. Kereta pun datang, Dini berjalan lemah menaiki pintu gerbong kereta. Disaat itu yang bisa aku lakukan hanyalah melambaikan tangan tanda selamat tinggal dan juga berusaha melemparkan senyum pada Dini, begitupula sebaliknya. Kita berusaha tegar walapun pada kenyataannya kita begitu terasa amat sakit. Setelah itu Dini menghilang bersama lonceng kereta pada kelok pertama stasiun.
Komentar