CERPEN: Kejutan Untuk Si Malang
Matahari semakin
tinggi, Ringga duduk dibalai kayu depan rumahnya, balai kayu tersebut terlihat
tua, namun memiliki kaki-kaki yang kukuh berdiri tegak. Ringga tinggal di
sebuah rumah yang sangat sederhana, ia hanya tinggal bersama ibunya, ayahnya
sudah lama meninggal dunia, sekitar pada usia Ringga menginjak 2 tahun. Ringga
dilahirkan didalam keluarga yang bisa dibilang kurang mampu. Ibunya yang
sakit-sakitan membuat kehidupannya semakin memelas.
Sudah berapa
puluh kali Ringga mengedarkan pandangnya ke arah barat, raut wajahnya yang lesu
terlihat semakin cemas. Ringga memang tengah cemas menunggu temannya. Danu dan
Mira.
Danu
dan Mira merupakan sahabat baik Ringga, mereka yang selama 3 tahun ini telah
setia membantu Ringga untuk pergi ke Sekolah. Kaki Ringga berbeda dengan
teman-temanya, kakinya terlihat kecil, tak sesuai dengan ukuran badannya,
jangankan untuk berjalan, sekadar menggerakan ujung pergelangan kakinyapun ia
tidak bisa. Ringga merupakan penyandang Tunadaksa.
Setiap hari Danu
menggendong temannya itu ke sekolah, sedangkan Mira mengekor dibelakang kedua
temannya dengsn membantu membawakan tas milik Ringga dan juga Danu. Mereka
bertiga memang selalu kompak, tak heran jikalau Ibu Ringga merasa aman jika
anaknya dititipkan pada kedua sahabat anaknya tersebut.
Dikepanikan
Ringga yang semakin bergejolak, Ibunya pun datang menghampirinya dari arah
Dapur dengan muka melas, karena melihat anaknya yang tengah duduk lemas diatas
balai kayu rumahnya.
Wajah
Ibu Ringga sangat manis, matanya sayu, terlihat sangat meneduhkan hati bila
dipandang, bibirnya pucat pasi, mungkin karena saat ini Ibu Ringga tengah sakit
Paru-paru, sehingga raut wajahnya ikut lesu, badannya pun juga sangat kurus.
“Sudahlah Nak,
tak perlu cemas seperti itu, mungkin teman-temanmu hari ini ada halangan,
sehingga mereka tidak bisa masuk sekolah” Ucap Ibu Ringga dengan bibirnya yang
pucat.
“Iya Bu” Ringga
menjawab dengan suara yang serak parau “mungkin hari ini aku tidak sekolah
saja, Bu” lanjutnya.
“Kamu tidak
boleh seperti itu Ringga, hari ini kamu harus tetap bersekolah, kalau kamu tidak
bersekolah sama saja kamu tidak menghargai perjuangan ibu selama ini yang susah
payah menyekolahkan kamu.”
“Tapi Bu,
lihatlah, bagaimana aku bisa berangkat ke Sekolah, sedangkan untuk sekedar
menggerakan pergelangan kakiku saja, aku tidak bisa” jawab Ringga dengan
wajahnya yang terlihat kecewa.
Ibu Ringga
merasa sangat sedih melihat keadaan anaknya, ia bukan menyedihkan kondisi Fisik
anaknya, justru ia menyedihkan diri sendiri, ia selalu berfikir, dosa apa yang
telah ia perbuat sehingga ia mendapatkan cobaan seperti ini, dan mengapa cobaan
itu harus menimpa anaknya, bukan dirinya. Mata Ibu Ranu terlihat berkaca-kaca.
“Nak” Ringga
tidak menyahut panggilan ibunya “Kau kecewa dengan semua keadaan ini? Baiklah,
kalau begitu biar Ibu saja yang menggendongmu ke Sekolah.”
“Jangan, Bu,”
Cegah Ringga “Hari ini Ringga lebih baik tidak masuk, Bu. Lagipula guru-guru di
Sekolah juga pasti tahu apa alasan mengapa aku tidak pergi ke sekolah.”
“Tidak
Ringga, bagaimanapun keadaanmu sekarang, kau harus tetap bersekolah” tukas Ibu.
Ringgapun
bergerak turun kebawah lantai yang belum terkena sentuhan modern seperti
keramik ataupun mester. Lantai itu masih berupa tanah yang padat. Dengan susah
payah Ringga menggapai lantai tanah tersebut.
“Baiklah, jika
itu yang Ibu mau” Ucap ringga sembari tergolek di lantai tanah rumahnya, “Aku
akan pergi bersekolah Bu, tak apa bila aku harus pergi dengan mengesot-ngesot
seperti ini, yang terpenting Ibu tidak kecewa denganku.”
Ibu Ringga
berlari menghampiri anaknya, tak dirasa kedua pipi Ibu Ringga kini sudah
terbanjir air mata, Ia mengisak tangis lirih, ia berusaha menyembunyikan
kesedihannya itu, namun anaknya hanya penyandang tunadaksa bukan tunanetra
ataupun tunarungu, sehingga Ringga dapat melihat dan mendengar tangisan Ibunya.
Ibu Ringga
mencoba meraih dua tangan anaknya, ia berniat untuk mengajak Ringga supaya
anaknya itu mau untuk Ia gendong. Sayang, uluran tangannya ditolak, Ringga
tetap memaksakan diri untuk mengesot menuju sekolahnya.
Ringga kini
telah berada di jalan tepat depan rumahnya. Suasana pagi ini sungguh sangat
memilukan, betapa tidak, seorang anak yang cacat, memiliki semangat sekolah
yang cukup tinggi untuk menimba sebuah ilmu, meskipun dengan cara mengesot
sekalipun.
Bukan hanya
Ibunya yang menangis, Ibu-ibu yang baru saja pulang belanja dari warung
sebelahpun ikut melelehkan air mata, begitu pula dengan Bapak-bapak penjual
roti di sebrang jalan. Ia menampakan mata yang berkaca-kaca. Pagi itu alam
terasa pilu.
Setelah 50 meter
Ringga bersusah payah mengesot, terdengan seruan suara, dimana suara itu tentu
tidak asing di telinga Ringga.
“Ringga...”
Siapa sangka,
ternyata itu adalah suara Danu, ia datang menghampiri Ringga dengan berlari
cepat. Muka Danu terlihat penuh kegembiraan, entah apa yang sedang ia
sembunyikan darinya. Danupun dapat menggapai tubuh Ringga. Ia mencoba mengatur
nafasnya yang sengal. Sepertinya ia ingin menunjukan sesuatu.
“Maaf, Ringga.
Aku terlambat” Suara Danu dengan nafas yang masih tersengal.
“Tidak apa-apa
Danu. Aku mengerti. Hanya saja kukira kau sudah bosan untuk menggendongku”
jawab Ringga dengan melas.
“Ti-tidak
Ringga, mana mungkin aku bosan mengantarmu. Hari ini aku sedikit terlambat
karena dirumah aku sedang ada sedikit keperluan” Ringga, merasa bersalah
Ohm... Ringga
hanya menggumam
“Tapi Ringga,
aku punya sedikit kejutan untukmu, aku harap kamu suka”
“Kejutan?
Kejutan apa?” perkataan Danu sungguh membuat Ringga penuh dengan rasa
penasaran.
“Pok... pok...
pok....” Danu menepukkan kedua tanggannya, lalu keluarlah Mira dari balik
samping rumah Ringga. Spontan Ringga menganga, ia sangat kaget dengan apa yang
Mira bawa. Ya, Mira datang dengan membawa sebuah kursi roda. Jelas kursi ini
akan ia berikan untuk sahabatnya, Ringga. Tak hanya Ringga yang merasa
terkejut, Ibu Ringgapun sama. Lagi-lagi ia melelehkan air mata atas apa yang ia
lihat sekarang.
“Selamat pagi
Ringga, Ibu” Mira, gadis manis itu mengucapkan salam dengan manisnya.
“ngomong-ngomong, hari ini aku dan Danu membawa hadiah untuk Ringga. Maaf jika
kami telat, kami tadi harus mengambil kursi roda ini dulu di klinik. Kursi ini
merupakan hadiah dari Kami dan juga anak-anak kelas, Ringga. Kami sengaja
mengumpulkan uang tanpa sepengetahuan kamu, untuk dapat membeli Kursi roda ini,
ini berkat doa dan kegigihan Ringga dalam belajar maka kamu pantas untuk
mendapatkan semua ini, Ringga. Terimalah ini.”
Ringga tak dapat
berkata apa-apa, ia hanya menangis, tanpa isak. Sungguh ia tidak percaya dengan
apa yang ada didepan matanya, sebuah kursi roda yang sebelumnya ia berfikir
bahwa mustahil untuk memilikinya. Tapi pernyataan itu salah, buktinya sekarang
Kursi roda yang tadinya hanyalah sebuah harapan semu, kini berdiri kokoh
didepan matanya, bahkan itu menjadi miliknya.
Inilah bukti
kebaikan Tuhan pada umatnya yang senantiasa bersungguh-sungguh dalam
memperjuangkan ilmu. Tuhan pasti akan memudahkan segala urusan yang dihadapi
Umat-Nya tersebut, seperti halnya Ringga. Yang rela mengesot, menyusuri tanah
kotor, demi menimba sebuah ilmu diatas kecacatannya. Ringga memiliki sikap yang
tangguh dan juga penurut. Ia sangat menyayangi Ibunya, satu-satunya orang tua
yang masih ia miliki. Ia bersusah payah untuk membahagikan Ibunya.
Komentar